Al Quran telah memberikan penjelasan geopolitik mengenai kawasan Timur Tengah lebih dari 1.400 tahun yang lalu. Surah Al Maidah 51 – 58 menggambarkan teater geopolitik tersebut. Dalam drama tersebut, empat aktor utama memainkan peran penting, di antaranya: golongan Yahudi, golongan Kristen, golongan munafik, dan golongan mukmin.
Golongan Yahudi dan Kristen
Aliansi dibentuk antara golongan Yahudi dan Kristen. Namun, tidak semua Yahudi dan Kristen termasuk dalam aliansi ini. Banyak Yahudi yang tidak mendukung Kristen berdasarkan perbedaan teologi, dan sebaliknya. Aliansi ini dibentuk oleh golongan Zionis Yahudi dan Kristen.
Golongan ini memiliki tujuan mereka masing-masing, namun mereka bersatu dalam melihat Muslim sebagai musuh bersama. Mereka saling melindungi, seperti yang dijelaskan dalam ayat 51.
Golongan Munafik
Golongan munafik muncul dan menjadikan aliansi Zionis Yahudi dan Kristen sebagai “aulia” atau pelindung, pemimpin, dan teman sejati karena takut akan bencana. Mereka ini menjadi Zionis juga, atau bisa disebut sebagai Zionis Muslim. “Barang siapa di antara kamu menjadikan mereka sebagai aulia, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka.”
Mereka percaya akan mendapatkan perlindungan, meski sebagai Muslim mereka lupa bahwa pelindung utama adalah Allah. Siapa saja yang mencari perlindungan selain kepada Allah itu ibarat laba-laba yang membuat rumah, dan selemah-lemah rumah adalah rumah laba-laba. (QS Al Ankabut 41).
Golongan Mukmin
Golongan keempat adalah golongan mukmin, yang dipilih oleh Allah untuk menggantikan Muslim yang dianggap murtad. Allah mencintai mereka, dan mereka mencintai Allah. Mereka berlaku lembut terhadap orang beriman, tetapi keras terhadap orang kafir. Mereka berjihad fi sabilillah dan tidak takut akan celaan, fitnah, atau intimidasi (ayat 54).
Mereka hanya ingin menjadikan Allah, Rasul-Nya, dan sesama golongan mukmin sebagai penolong. Dalam konteks geopolitik saat ini, golongan ini dapat dilihat dalam bangsa Palestina dan Iran. Itulah mengapa Iran tidak mau meminta perlindungan Rusia dan China meski menghadapi aliansi Zionis Yahudi (Israel) dan Zionis Kristen (Amerika) dan sekutunya.
Kasus Iran
Iran dapat bekerja sama dan saling membantu dengan Rusia dan China dalam konteks ta’awanu alal birri (tolong menolong dalam kebaikan) dan melawan penindas. Itu juga jawabannya mengapa Palestina tidak mau berlindung kepada Rusia dan China untuk melawan penindasan Israel dan Amerika. Mereka tidak mau mengorbankan akidah tauhid untuk mendapatkan dunia. Karena dunia itu terlalu kecil (QS Ali Imran 197) untuk dibeli dengan akidah.
Peristiwa Historis
Saddam Husein meminta perlindungan Amerika saat menyerang Iran pada 1992-1998. Tapi apa hasilnya? Dia bernasib seperti laron masuk rumah laba-laba, dimangsa oleh Amerika. Presiden Suriah Bashir Al Asad berlindung ke Rusia. Tapi saat dikudeta, Rusia hanya diam. Asad dibiarkan lari sendiri dan sempat tidur di pasar bantalan gubis.
Shah Reza Pahlevi, penguasa Iran, saat digulingkan oleh Gerakan Revolusi Islam yang dipimpin Ayatullah Khomeini, dibiarkan saja oleh Amerika. Sampai mati jadi “gelandangan” di Amerika.
Negara-Negara Teluk
Kini, kita bisa melihat nasib negara-negara Teluk seperti Bahrein, Qatar, UEA. Saat diserang Iran, Amerika malah memindahkan serdadu dan pesawat tempurnya dan membawanya pulang.
Untuk memahami bagaimana akhir dari drama geopolitik ini, kita bisa merujuk kepada pernyataan Nabi Musa. Musa berkata kepada kaumnya, “Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah. Sesungguhnya bumi ini milik Allah. Diwariskan-Nya kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan (yang baik) adalah bagi orang-orang yang bertakwa”.(QS Al Araf 128). Allahu a’lam.
