Data Center di Batam Boros Air, Ini Solusi Green Tech Buat Hemat!

Bayangkan sebuah pulau yang sepenuhnya bergantung pada air hujan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari penduduknya. Sekarang, bayangkan pulau yang sama sedang membangun 18 fasilitas teknologi raksasa yang masing-masing membutuhkan jutaan liter air setiap hari. Inilah dilema yang dihadapi Batam saat ini.
Fasilitas NeutraDC-Nxera saja memerlukan 3 juta liter air per hari hanya untuk sistem pendinginannya. Jumlah ini setara dengan konsumsi 30.000 orang menurut standar WHO. Sungguh angka yang membuat kita berpikir ulang tentang keberlanjutan perkembangan teknologi.
Lalu mengapa Batam menjadi magnet investasi infrastruktur digital di Asia Tenggara? Jawabannya terletak pada posisi strategisnya—hanya 45 menit dari Singapura—dan status sebagai kawasan ekonomi khusus dengan berbagai insentif menarik. Nongsa Digital Park kini menjadi rumah bagi sembilan pusat teknologi dengan empat lagi segera menyusul.
Transformasi Batam dari pusat manufaktur menjadi hub digital memang mengesankan. Namun pertumbuhan sektor ini harus diimbangi dengan solusi inovatif yang ramah lingkungan. Artikel ini akan mengeksplorasi berbagai teknologi pendinginan hemat air yang bisa menjadi jawaban untuk masa depan yang lebih berkelanjutan.
Poin Penting
- Batam sedang membangun 18 fasilitas teknologi besar meski sumber air terbatas
- Satu data center saja membutuhkan 3 juta liter air per hari untuk pendinginan
- Konsumsi air setara dengan kebutuhan 30.000 orang menurut standar WHO
- Posisi strategis dekat Singapura membuat Batam menarik bagi investor
- Nongsa Digital Park menjadi pusat pengembangan infrastruktur digital
- Pertumbuhan teknologi harus diimbangi dengan solusi ramah lingkungan
- Artikel akan membahas inovasi pendinginan hemat air untuk keberlanjutan
Latar Belakang dan Tantangan Pasokan Air di Batam
Ketergantungan total pada curah hujan menjadikan Batam sangat rentan terhadap perubahan musim dan krisis air. Kota ini tidak memiliki sungai besar yang dapat diandalkan sebagai sumber utama.
Kondisi Geografis dan Ketergantungan pada Air Hujan
Enam waduk tadah hujan menjadi tulang punggung pasokan untuk seluruh aktivitas di pulau ini. Sistem ini memasok sekitar 382 juta liter setiap hari bagi penduduk dan sektor industri.
Sumur tanah telah dilarang permanen karena kualitasnya yang buruk. Hal ini membuat tidak ada alternatif lain saat musim kemarau panjang melanda.
Dampak Krisis Air pada Warga dan Infrastruktur
Masih terdapat 18 area stres dimana aliran hanya tersedia empat jam sehari. Di wilayah lebih tinggi, waktu pengaliran bahkan lebih singkat.
Muhammad Iwan dari Teluk Mata Ikan mengalami krisis pada akhir 2024. Keluarganya harus begadang untuk menampung tetesan dari keran.
Pada 2020, waduk utama Duriangkang turun 2,7 meter di bawah batas normal. BP Batam harus menyemai awan untuk memicu hujan buatan.
Waduk Baloi yang dibangun 1977 harus ditutup pada 2012 karena tercemar logam berat. Aktivitas ilegal di sekitar Tembesi juga mengancam sumber vital ini.
Investasi Rp1,4 triliun dibutuhkan untuk membangun jaringan pipa lengkap. Jumlah ini mencapai 74% dari anggaran tahunan BP Batam.
Data center Batam boros air: Mengapa dan Bagaimana Konsumsinya Tinggi?

Konsumsi sumber daya oleh industri teknologi menjadi perhatian utama di wilayah dengan keterbatasan alam. Fasilitas komputasi modern membutuhkan pendekatan khusus untuk mengelola operasionalnya secara efisien.
Kebutuhan untuk Pendinginan Server dan Infrastruktur Data
Server bekerja tanpa henti 24 jam sehari dan menghasilkan panas luar biasa. Tanpa sistem pendinginan yang efektif, perangkat dapat rusak dalam hitungan menit.
Menurut penelitian David Mytton dari Imperial College London, setiap megawatt kapasitas pusat data mengonsumsi sekitar 25,5 juta liter air per tahun hanya untuk pendinginan. GPU dengan daya 200-300 watt membutuhkan pengaturan suhu yang konstan.
Faktor Pendorong Peningkatan Investasi Data
Posisi strategis hanya 45 menit dari Singapura membuat lokasi ini menarik bagi investor. Status sebagai kawasan perdagangan bebas dengan berbagai insentif juga menjadi daya tarik utama.
Ketersediaan listrik dengan cadangan 37% mendukung pembangunan infrastruktur digital. Permintaan tinggi akan layanan cloud computing di Asia Tenggara terus mendorong ekspansi.
| Sistem Pendinginan | Konsumsi Air | Efisiensi Energi | Kebutuhan Ruang |
|---|---|---|---|
| Air Cooling (AC) | Rendah | Sedang | Besar |
| Liquid Cooling | Sedang | Tinggi | Kecil |
| Immersion Cooling | Sangat Rendah | Sangat Tinggi | Kecil |
NeutraDC-Nxera sebagai joint venture menunjukkan skala investasi data yang melibatkan pemain besar regional. Proyek ini akan beroperasi penuh pada awal 2026 dengan kapasitas total 56 MW.
Inovasi Teknologi Hemat Air di Data Center
Teknologi pendinginan modern menawarkan solusi cerdas untuk efisiensi sumber daya di fasilitas komputasi. Berbagai pendekatan inovatif dapat mengurangi konsumsi air secara signifikan.
Sistem Liquid Cooling dan Direct-to-Chip sebagai Solusi
NeutraDC-Nxera menerapkan pendekatan hybrid yang cerdas. Lantai dua menggunakan sistem direct-to-chip yang mengalirkan cairan pendingin langsung ke prosesor.
Teknologi ini meminimalkan kehilangan air akibat evaporasi. Penghematan mencapai 70% dibanding sistem konvensional.
Golden Digital Gateway di Nongsa menggunakan pendingin berbasis udara. Desainnya fleksibel untuk beralih ke pendingin cair ketika diperlukan.
Penerapan Teknologi Water Immersion dan Reuse Air
Immersion cooling merendam server dalam cairan khusus. Sistem ini mampu mendaur ulang hingga 90% air yang digunakan.
Hanya 10% air yang lepas ke udara. Ini membuatnya menjadi salah satu teknologi paling hemat sumber daya.
Beberapa negara sudah menggunakan air laut untuk pendinginan. Batam sebagai pulau bisa mengeksplorasi opsi serupa.
Sistem reuse air mengolah kembali air kondensat dan limbah. Pendekatan ini mendukung keberlanjutan lingkungan dan mengurangi ketergantungan air bersih.
Regulasi, Insentif, dan Investasi untuk Infrastruktur Air

Pemerintah Indonesia telah menyusun kerangka regulasi yang komprehensif untuk mengelola penggunaan sumber daya air di sektor industri. Pendekatan ini bertujuan menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan keberlanjutan lingkungan.
Peraturan PUPR dan Strategi Efisiensi Penggunaan Air
Permen PUPR Nomor 2/2024 mewajibkan setiap pengguna sumber daya air menyusun rencana efisiensi dan penggunaan ulang air limbah. Pemohon harus menyiapkan kajian dampak lingkungan serta desain teknis yang detail.
Malaysia melalui MITI telah melarang pembangunan di lokasi dengan Water Stress Index ≥ 0.8. Pedoman ketat ini bisa menjadi pelajaran berharga untuk kawasan industri di Indonesia.
Kerjasama Antarpemda dan Industri dalam Membangun Water Treatment Plant
BP Batam berencana membangun fasilitas pengolahan air berkapasitas 30 juta liter per hari untuk SEZ Nongsa. Investasi ini menunjukkan komitmen mendukung pertumbuhan infrastruktur digital.
Kerjasama antara pelaku usaha dan pemerintah daerah sangat penting. NeutraDC telah bermitra dengan PAM dan Kawasan Industri Terpadu Kabil untuk memastikan pasokan air yang stabil.
Teknologi desalinasi air laut menjadi opsi menarik meski harganya lebih tinggi. Investasi fasilitas berkapasitas 300 m² membutuhkan dana sekitar Rp300 miliar.
Kesimpulan
Keseimbangan antara pertumbuhan teknologi dan keberlanjutan lingkungan menjadi kunci sukses pembangunan di era digital. Wilayah dengan sumber daya terbatas menghadapi tantangan kompleks dalam memenuhi kebutuhan infrastruktur modern tanpa mengorbankan pasokan dasar masyarakat.
Solusi hijau seperti pendinginan cair dan sistem daur ulang sudah terbukti efektif, didukung oleh regulasi yang mendorong efisiensi. Investasi dalam pengolahan sumber daya dan teknologi treatment air merupakan langkah strategis untuk mendukung sektor ekonomi digital yang berkelanjutan.
Kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat akan menentukan keberhasilan transformasi ini. Dengan pendekatan yang tepat, pembangunan infrastruktur digital dapat berjalan harmonis dengan perlindungan lingkungan untuk generasi mendatang.




