Gaji 70 Ribu untuk 10 Jam Kerja di PT Ingin Food Indonesia Cikande Modern

Di tengah hiruk-pikuk industri makanan, PT Ingin Food Indonesia yang berlokasi di kawasan industri Modern Cikande, Kabupaten Serang, menyimpan cerita yang cukup mengejutkan dari mantan karyawannya. Pengalaman pahit yang dibagikan oleh seorang mantan pekerja ini mengungkap realitas kehidupan kerja yang mungkin tidak diketahui oleh banyak orang, khususnya mengenai sistem gaji dan tekanan kerja yang dialaminya.
Gaji dan Jam Kerja yang Menjadi Sorotan
Pekerjaan di PT Ingin Food Indonesia mengharuskan karyawan untuk hadir tepat waktu, yaitu pukul 08.00 WIB, dan mereka harus sudah berada di dalam area kerja sebelum jam tersebut. Karyawan hanya diberikan waktu istirahat selama 30 menit, yang dihabiskan untuk makan dan mengganti pakaian kerja. Hal ini membuat mereka kesulitan untuk melakukan sholat, meskipun sebenarnya diperbolehkan. Hal ini diungkapkan oleh mantan karyawan tersebut pada Kamis, 3 September.
Meskipun ada kebijakan yang membolehkan sholat, banyak karyawan yang memilih untuk mengabaikannya. Tekanan untuk mencapai target harian yang ditetapkan oleh perusahaan sering kali menjadi alasan utama. “Kami terus-menerus diminta untuk meningkatkan performa, dan jika tidak, ancaman pemecatan selalu menghantui,” ujarnya.
Tekanan Kerja yang Menghimpit
Setiap hari, karyawan diharuskan mengikuti briefing yang menekankan pentingnya pencapaian target. Jika target individu tidak tercapai, konsekuensi berupa ancaman pemecatan bisa menanti. “Saya merasakan betul bagaimana tekanan ini membuat kami tidak nyaman,” ungkap mantan karyawan tersebut.
- Jam kerja dimulai dari pukul 08.00 WIB hingga 18.00 WIB.
- Waktu istirahat yang sangat minim, hanya 30 menit.
- Tekanan untuk mencapai target yang terus-menerus meningkat.
- Ancaman pemecatan bagi yang tidak mencapai target.
- Peraturan yang ketat, termasuk sanksi bagi keterlambatan.
Gaji Harian yang Minim
Salah satu hal paling mencolok dari pengalaman bekerja di PT Ingin Food Indonesia adalah besaran gaji yang hanya mencapai 70 ribu rupiah per hari. Dalam waktu kerja yang berlangsung selama 10 jam, karyawan merasa bahwa imbalan tersebut sangat tidak sepadan dengan tenaga yang dikeluarkan. “Saya sering pulang larut malam, sekitar pukul 20.00 hingga 21.00, namun tetap saja, gaji yang diterima tidak lebih dari 100 ribu rupiah setiap harinya,” tambahnya.
Untuk lembur, perusahaan hanya memberikan kompensasi sebesar 7 ribu rupiah per jam. “Lembur menjadi hal yang wajib, dan jika tidak mengikuti lembur di hari libur atau tanggal merah, akan ada sanksi berupa Surat Peringatan (SP),” jelasnya lebih lanjut mengenai kondisi tersebut.
Peraturan yang Menyakiti
Dari pengalamannya, mantan karyawan ini menyebutkan bahwa meskipun ada banyak peraturan yang diberlakukan, gaji yang diterima tetap tidak sebanding. “Saya lebih memilih untuk menjaga kesehatan dan memilih keluar dari pekerjaan ini. Pada dasarnya, bagaimana mungkin seorang karyawan dapat bertahan dengan gaji 70 ribu, kerja 10 jam, hanya mendapatkan istirahat 30 menit, dan lembur dibayar sangat minim?” keluhnya.
Dalam situasi ini, banyak karyawan yang merasa tertekan dan terancam. “Jika terlambat 1-2 menit saja, sanksi sudah menanti. Sungguh ironis, di tengah banyaknya peraturan yang harus dipatuhi, gaji yang diterima tidak mencerminkan rasa adil,” tutupnya dengan nada penuh penyesalan.
Suara dari Mantan Karyawan
Pengalaman pahit ini diungkapkan melalui pesan langsung ke akun resmi TikTok yang dikelola oleh serangtimurofficial. Mantan karyawan ini berharap bahwa dengan membagikan kisahnya, pihak perusahaan dapat mengambil tindakan untuk memperbaiki kondisi kerja dan kesejahteraan karyawan.
Jika PT Ingin Food Indonesia merasa keberatan dengan informasi ini, mereka memiliki kesempatan untuk memberikan klarifikasi melalui saluran komunikasi yang telah disediakan. Hal ini penting untuk memastikan bahwa kedua belah pihak dapat berkomunikasi dengan baik dan menemukan solusi yang menguntungkan.
Pentingnya mendengarkan suara dari karyawan tidak dapat dipandang sebelah mata. Mereka adalah bagian penting dari suatu perusahaan dan suara mereka harus didengar. Dalam industri yang kompetitif seperti ini, kesejahteraan karyawan seharusnya menjadi prioritas utama. Perusahaan yang baik akan selalu mempertimbangkan masukan dari karyawan untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih baik dan produktif.




