Lansia Terindikasi Aktivis Judol Setelah Mengaku Tak Punya HP, Bansos Dihentikan

Di tengah meningkatnya perhatian publik mengenai praktik judi online, Kementerian Sosial (Kemensos) menemukan sejumlah masalah terkait penerima bantuan sosial (bansos). Termasuk di dalamnya adalah dua warga lanjut usia (lansia) dari Pekalongan, Jawa Tengah, yang terindikasi terlibat dalam aktivitas tersebut. Situasi ini menggugah keprihatinan, terutama karena mereka mengklaim tidak memiliki telepon seluler, yang menjadi salah satu cara untuk melakukan aktivitas judi online.

Penyelidikan Terhadap Penerima Bansos

Menteri Sosial Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul, mengungkapkan bahwa pihaknya sedang mendalami lebih jauh mengenai penggunaan KTP penerima bansos oleh pihak-pihak yang tidak berwenang. Hal ini teridentifikasi melalui pemutakhiran data yang dilakukan oleh Kemensos, termasuk dugaan keterlibatan dalam judi online.

“Saat ini kami sedang menyelidiki fenomena di mana KTP penerima bansos disalahgunakan oleh orang lain untuk berbagai kepentingan, termasuk untuk membuat akun judi, membeli motor, atau bahkan berlangganan listrik. Kami berkomitmen untuk memastikan semua informasi yang ada,” ujar Gus Ipul dalam sebuah konferensi pers di Kantor Kemensos, Jakarta Pusat.

Penyalahgunaan Identitas yang Merugikan

Gus Ipul menekankan bahwa masalah ini berpotensi merugikan keluarga yang sebenarnya berhak mendapatkan bantuan. Banyak dari mereka yang berada dalam kondisi prasejahtera justru tidak mendapatkan bansos akibat penyalahgunaan identitas yang dilakukan oleh anggota keluarga atau orang lain.

“Contohnya, ada keluarga yang seharusnya mendapatkan bantuan, tetapi tidak lolos karena KTP mereka digunakan oleh orang lain. Ada juga kasus di mana anak-anak atau anggota keluarga lain yang terlibat dalam judi online menggunakan identitas mereka,” tambahnya.

Langkah Perbaikan Data Penerima Bansos

Menanggapi situasi ini, Kemensos sedang melakukan langkah-langkah untuk memperbaiki dan memperbarui data penerima bansos. Pemerintah tidak ingin masyarakat yang benar-benar membutuhkan bantuan kehilangan akses hanya karena oknum yang menyalahgunakan identitas.

“Apabila kami menemukan lansia atau keluarga yang sangat membutuhkan, namun tidak mendapatkan bansos akibat indikasi judi, kami akan melakukan verifikasi. Ini adalah prioritas kami untuk memastikan semua data akurat dan sesuai dengan kondisi riil,” jelas Gus Ipul.

Proses Verifikasi dan Penyaluran Bansos

Gus Ipul menegaskan bahwa jika hasil verifikasi menunjukkan penerima bansos masih memenuhi kriteria, maka bantuan akan tetap disalurkan. Ini adalah usaha untuk menjaga agar bantuan sosial tetap tepat sasaran dan tidak terhambat oleh masalah yang tidak seharusnya.

“Kami ingin memastikan bahwa bantuan tetap bisa diberikan kepada mereka yang memang membutuhkan, terutama bagi lansia yang rentan dan tidak memiliki sumber pendapatan tetap,” tukasnya.

Kisah Nyata Lansia Terdampak

Seperti yang terjadi pada pasangan lansia Dayat (77) dan Darmi (63) dari Dukuh Kayunan Barat, Desa Kayugeritan, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Pekalongan. Pasangan ini sebelumnya terdaftar sebagai Keluarga Penerima Manfaat (KPM) yang mendapatkan bantuan senilai Rp600 ribu setiap tiga bulan. Namun, bantuan tersebut terhenti sejak awal tahun 2026 karena data mereka terindikasi terkait aktivitas judi online.

Ironisnya, keduanya mengaku tidak memiliki telepon seluler, yang menjadi salah satu alat yang sering digunakan untuk melakukan aktivitas judi. Kondisi ekonomi mereka pun tergolong kurang mampu, dan mereka masih terdaftar dalam desil 1 DTSEN, yang merupakan kelompok dengan tingkat kesejahteraan terendah.

Dampak Sosial dan Ekonomi

Kondisi yang dialami Dayat dan Darmi adalah contoh nyata dari dampak sosial dan ekonomi yang dihadapi oleh banyak lansia lainnya. Ketidakadilan ini tidak hanya merugikan mereka secara finansial tetapi juga menambah beban psikologis akibat kehilangan akses terhadap bantuan yang sangat diperlukan.

“Kami berharap pemerintah dapat segera melakukan tindakan yang tepat agar tidak ada lagi lansia yang menjadi korban dari penyalahgunaan identitas, dan bantuan sosial dapat disalurkan dengan adil dan tepat sasaran,” ungkap Darmi, mewakili suaminya.

Kesimpulan dan Harapan untuk Masa Depan

Kasus yang menimpa Dayat dan Darmi menyoroti pentingnya perlindungan bagi lansia dan keadilan dalam penyaluran bantuan sosial. Semoga langkah-langkah yang diambil oleh Kemensos dapat memperbaiki sistem dan memastikan bahwa bantuan sampai kepada mereka yang benar-benar membutuhkan.

Dengan adanya perhatian yang lebih besar terhadap isu ini, diharapkan akan ada perbaikan dalam manajemen data penerima bansos. Ini adalah langkah penting untuk menciptakan sistem yang lebih transparan dan akuntabel, serta memberikan jaminan kepada masyarakat, terutama lansia, bahwa mereka tidak akan dibiarkan dalam kesulitan.

Exit mobile version