slot depo qris 10k slot depo 10k

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

Tapanuli

Buntut Bentrok Pedagang dengan Satpol PP Samosir, Pelajar 15 Tahun Dirawat di Rumah Sakit

<p>RS sebelumnya diduga menjadi korban kekerasan saat penertiban kios tempat keluarganya berjualan di kawasan Tele, Kabupaten Samosir, Kamis (17/9/2026) malam.</p>

<p>Saat ini, RS terbaring lemah di RSUD Hadrianus Sinaga Pangururan untuk menjalani pemeriksaan dan perawatan medis.</p>

<p>Kronologi kejadian bermula ketika personel Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) hendak melakukan pembongkaran kios di kawasan Tele.</p>

<p>Menurut ibu RS, Juliana (44), saat itu dirinya meminta anaknya tidak masuk sekolah agar membantu mengangkat barang-barang dagangan dari kios yang akan dibongkar.</p>

<p>“Saya menyuruh anak saya agar tidak sekolah, agar membantu saya mengangkat barang,” ujar Juliana kepada Medanbisnisdaily.com, Kamis malam di kompleks RSUD Hadrianus Sinaga Pangururan.</p>

<p>Juliana mengatakan, dirinya meminta bantuan RS karena sudah kelelahan setelah menghadapi situasi pada malam sebelumnya ketika berupaya menghadang petugas Satpol PP.</p>

<p>“Saya tidak sanggup lagi mengangkat barang itu, karena sudah capek tadi malam menghadang Satpol PP,” katanya.</p>

<p>RS kemudian membantu ibunya mengangkat dan mengeluarkan barang-barang dagangan dari kios tersebut.</p>

<p>Diduga Mengalami Kekerasan</p>

<p>Saat berada di lokasi penertiban, Juliana mengklaim RS mengalami kekerasan yang dilakukan sejumlah personel Satpol PP.</p>

<p>“Anak saya dikeroyok banyak Satpol PP, sampai anak saya mengeluarkan darah dari mulutnya,” ungkap Juliana.</p>

<p>Persoalan tersebut kemudian diproses melalui mediasi di Polres Samosir. Pihak keluarga RS dan Satpol PP disebut sepakat akan saling membuat laporan ke polisi.</p>

<p>Seusai mediasi, pihak keluarga RS meninggalkan Pangururan sekitar pukul 18.00 WIB setelah proses tersebut.</p>

<p>Pulang dari Mediasi, Kondisi RS Dikeluhkan Memburuk</p>

<p>Menurut ayah RS, Sampe Sinaga (45), kondisi anaknya mulai mengkhawatirkan sekitar satu jam setelah mereka tiba di rumah.</p>

<p>“Kami pulang sekitar pukul 18.00 WIB dari Mapolres Samosir. Sekitar pukul 19.00 WIB, anak kami mengalami tubuh lemas dan pucat, sehingga kami larikan ke rumah sakit,” ujar Sampe.</p>

<p>RS kemudian dibawa ke RSUD Hadrianus Sinaga Pangururan sekitar pukul 20.00 WIB untuk mendapatkan pemeriksaan dan perawatan medis.</p>

<p>Ibu RS menambahkan, selain lemas dan pucat, anaknya mengeluhkan sakit pada bagian rusuk sebelah kanan. Ia juga melihat bagian tersebut tampak agak membengkak.</p>

<p>“Rusuk sebelah kanan anak saya dikeluhkan sakit dan kelihatan agak membengkak,” kata Juliana.</p>

<p>Ibu Korban Persoalkan Proses Perdamaian</p>

<p>Di tengah kondisi RS yang mendapatkan perawatan, Juliana mempersoalkan proses perdamaian yang dilakukan di Polres Samosir.</p>

<p>Ia mengaku tidak mengetahui adanya kesepakatan perdamaian tersebut dan tidak pernah memberikan persetujuan.</p>

<p>“Saya tidak mengetahui dan tidak pernah memberikan persetujuan terkait perdamaian itu,” ujarnya.</p>

<p>Karena keberatan, Juliana kemudian langsung kembali mendatangi Polres Samosir untuk membuat laporan.</p>

<p>“Sangat khawatir dengan anak saya, hingga melaporkan kejadian ini ke Polres Samosir lagi, tidak mau tahu dengan mediasi itu,” kata Juliana.</p>

<p>Sementara itu, suaminya, Sampe Sijabat, bersama sejumlah warga dan kerabat berada di RSUD Hadrianus Sinaga menunggu hasil pemeriksaan medis RS.</p>

<p>Ketika dikonfirmasi, ayah RS mengaku menandatangani proses perdamaian karena sedang linglung melihat kondisi anaknya yang sudah lemah.</p>

Related Articles

Back to top button